Iduladha 1447 H sudah lewat beberapa hari kemarin. Daging kurban di rumahku masih belum habis sampai sekarang. Masih tersisa beberapa dan tersimpan rapi di wadah dalam kulkas. Kalau di rumah kalian apa dagingnya sudah habis?
Iduladha tahun ini terasa tak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Mungkin bedanya di hari itu ada sajian daging sapi yang lebih banyak ketimbang biasanya. Kalian bagaimana? Sudahkah bosan makan daging dan santan selama beberapa hari?
Ini adalah sedikit cerita perayaan Iduladha keluargaku di tahun 2026 ini. Sederhana dan seadanya, kami merayakan Iduladha di rumah tak jauh seperti hari biasanya.
Hiruk-Pikuk Iduladha di Pagi Hari
Kalau boleh jujur, Iduladha tahun ini terasa sepi. Rasanya senyap dan benar-benar selayaknya hari biasa. Apa mungkin ini karena gema takbir di malam hari yang tidak semeriah tahun kemarin? Entahlah, aku tak tahu pasti. Yang jelas pagi itu rasanya sangat sepi dan tenang. Jalanan lenggang, seolah perayaan Iduladha tahun ini memang tenang, sepi, dan seadanya.
Pagi dimulai dengan persiapan salat ke lapangan yang sangat santai. Karena semalam semua sudah disiapkan, rasanya tenang sekali pagi itu. Tak perlu grasak-grusuk apalagi buru-buru. Jadi, yah santai saja gak sih?
Sekitar jam 05.50-an bapak dan aku sudah berangkat ke Lapangan Bantarangin. Mengendarai motor matic dengan lambat, kami membelah jalanan yang senyap. Pagi yang benar-benar sepi. Belum banyak yang bergegas ke lapangan. Langkah mereka pun santai, tidak tergesa dibandingkan ketika Idulfitri kemarin.
Saf salat masih terasa mlomping ketika kami tiba jam 6 kurang sedikit. Baru dua baris yang mulai terisi. Itu pun belum penuh, masih ada bolong di sana sini. Terutama di sebelah utara yang baru diisi beberapa orang saja. Kali ini aku salat di saf baris kedua yang posisinya agak di tengah. Posisinya berbeda dibandingkan saat salat Idulfitri kemarin.
Rangkaian salat selesai sekitar jam 7 lebih sedikit. Beberapa orang bergegas pulang ke rumah, beberapa lagi bergegas pergi ke masjid. Kalau kami mah buru-buru pulang dan melakukan rutinitas biasanya. Bapak mengurus ayam yang kelaparan karena kami tinggal salat ke lapangan, sedangkan aku beberes rumah sekaligus menyelesaikan masak sarapan.
Babak Mengolah Daging yang Sederhana dan Tidak Ribet
![]() |
| Daging Iduladha tahun ini. |
Sekitaran pada waktu zuhur lebih sedikit, ada orang dari masjid yang datang membagikan daging ke rumah. Sambil mengucap terima kasih, sebungkus daging dalam kantong plastik putih itu aku terima. Pas pertama menerimanya aku kaget. Sebab jujur ternyata beratnya melebihi ekspektasiku.
Tahun ini kami dapat daging sapi dan daging kambing. Ada sedikit jeroan dan balungan*1) juga. Aku bukan tukang daging profesional sih, tetapi aku rasa kualitas potongan daging tahun ini bagus. Daging-daging segar ini segera aku simpan di kulkas sebelum dioleh nanti.
Tak ada rencana khusus dalam mengolah daging tahun ini. Aku akan memasaknya seperti selayaknya Iduladha di tahun-tahun kemarin. Bedanya semua daing aku presto terlebih dahulu sebelum disimpan di kulkas. Selain itu, aku juga buat stok kaldu tulang juga.
Butuh waktu selama 2 jam untuk memotong semua daging yang kami terima. Aku bersama bapak menghabiskan 2 jam tersebut di dapur sibuk mengiris daging sambil bercerita beragam hal. Daging yang besar dengan banyak otot aku serahkan ke bapak, sedangkan aku tentu saja potong bagian yang mudah-mudah saja.
Sebisa mungkin jaringan otot yang buat alot itu kami pisahkan dari daging. Jadi, yah memang proses potongnya butuh waktu yang lama sih. Soalnya jujur ya susah. Bapak sampai menyiapkan batu asah untuk mengasah pisau yang menumpul. Aku bahkan tak ingat sudah berapa kali mengasah pisau yang aku pakai.
![]() |
| Daging yang sudah dipotong dan akan dipresto. |
Setelah daging dipotong, daging disortir dalam beberapa bagian. Ada daging yang dipresto. Ada daging yang buat jadi tambahan pas masak kaldu dengan tulang. Gajih pun aku pisah sendiri karena nanti mau aku jadikan kuah pentol cilok.
Presto dagingnya pun tidak ribet. Setelah daging dibersihkan langsung deh masuk presto. Aku mempresto daging-daging ini selama 45 menit. Setelah itu daging didingikan sebelum disimpan di kulkas. Paling nanti dagingnya aku olah jadi sop daging, botok daging, kalio, semur, empal, dan soto daging. Masaknya tinggal siapin bumbu, masukan daging, dan jadi deh! Sat set banget pokoknya.
![]() |
| Membuat kaldu tulang untuk pertama kalinya. |
Proses yang lama selain memotong daging adalah membaut kaldu tulang. Yah, memang sih masak kaldu itu sejatinya harus lama. Kaldu yang aku buat ini sederhana kok. Cuma dari potongan otot dan tulang. Sebelum aku rebus aku cuci dulu. Kemudian direbus sebentar selama 15 menit setelah itu airnya dibuang. Baru deh direbus lagi dengan waktu yang lebih lama dengan api kecil ke sedang.
Butuh waktu hampir 2,5 jam untuk aku merebus kaldu ini. Menurutku untuk waktu segitu rasanya sudah oke sih, cuma kalau lebih lama pasti rasanya bakal lebih nendang. Namun, dikarenakan waktu makan malam sudah mendekat dan perut keburu keroncongan. Jadi, yah ini sudah oke kok buatku. Kaldunya aku diamkan sampai dingin sebelum disimpan di freezer. Sedangkan untuk tulangnya aku simpan pada wadah tertutup di freezer.
![]() |
| Sop daging untuk makan malam. |
Setelah membuat kaldu tulang, buru-buru aku masak makan malam. Menu makan malam kali ini adalah sop daging dengan kaldu yang aku buat tadi. Bumbunya pakai bumbu dasar putih, lada, garam, sedikit gula, dan MSG tentunya. Sayurnya ada wortel, kubis, loncang*2), tomat, brokoli, dan kentang. Ada beberapa potongan daging dan tetelan juga pastinya. Makannya pakai nasi hangat plus taburan bawang merah goreng biar makin sedap!
Menunya yang sederhana sih, tapi beuuuh enak! Beneran sop daging rumahan yang homey banget pokoknya! Dagingnya empuk dan lembut, bapak yang sepuh*3) bisa menyantap dagingnya dengan tenang. Kaldunya khas, gurih, dan wangi. Sayurnya warna-warni, empuk, dan enak! Pokoknya makan malam kali ini menyenangkan dan mengenyangkan! Kalau boleh jujur, aku rasa ini salah satu masakan yang akan membekas bagiku pribadi di tahun ini.
Itu sedikit ceritaku di Iduladha tahun ini. Memang perayannya sederhana dan seadanya, tetapi masih menyenangkan dan berkesan bagiku sendiri. Semoga kita masih diberi kesehatan dan bisa bertemu di Idulftri dan Iduladha tahun depan ya.
Jadi, bagaimana cerita Iduladha kamu di tahun ini? Bagikan ceritamu juga dong!
restyu, 010626.
*1) Balungan (bahasa Jawa) potongan tolong yang masih ada sisa dagingnya atau tetelan.
*2) Loncang (bahasa Jawa) daun bawnag.
*3) Sepuh (bahasa Jawa) tua.




EmoticonEmoticon