Sabtu, 11 April 2026

Aku Menulis Jurnal Dalam Rangka Menata Keseharian

Salah satu kebiasaan baruku di 2026 adalah menulis jurnal. Bukan jurnal yang muluk-muluk estetik seperti di instagram atau TikTok itu, cuma jurnal sederhana untuk refleksi pribadiku dari waktu ke waktu. Isinya juga simpel tak ribet dengan kebanyakan soal ide-ide random, rasa-rasa yang mengusik, serta beberapa sampah yang sayang dibuang.

Sebenarnya kebiasaan journaling ini sudah mulai aku lakukan di tahun 2025, tetapi agaknya di tahun ini rasanya benar-benar baru lebih teratur. Lewat kebiasaan ini aku merasa lebih tertata dalam mengelola hari-hariku. Mungkin sebab ada goal yang sudah aku tetapkan setiap waktu sehingga rasanya yah lebih jelas saja mau melangkah ke arah mana.

Bicara Soal Journaling

Berkenalan dengan Journaling

Salah satu entry journalku
Salah satu entry journalku.

Journaling dijelaskan oleh Cambridge Dictionary sebagai menulis apa yang telah kamu rasakan setiap hari, terkadang termasuk pikiran, rasa, dan tujuan[1]. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mungkin journaling bisa disebut sebagai penjurnalan. Aku rasa aktivitas ini bisa dideskripsikan sebagai kegiatan menulis yang bisa menjadi refleksi seseorang atas apa saja yang sudah dilaluinya.

Menulis jurnal mungkin terasa sama layaknya menulis diary. Namun, aku rasa jurnal dan buku harian bukanlah hal yang sama. Begitupun yang aku dapatkan kala mencoba mencari penjelasan di internet, disebutkan bila journaling dan menulis diary tidak sama. Mungkin sebab interval penulisannya berbeda, penjurnalan bebas ditulis kapan saja sedangkan buku harian ditulis setiap hari.

Kalau ditilik dari jenis yang ditulis pun memang journaling dan diary agaknya berbeda. Diary alias buku harian berputar pada pengalaman kejadian sehari-hari layaknya rekap keseharian, sedangkan journaling isinya bisa beragam. Jenis journaling di antaranya seperti gratitude journal, bullet journal, therapy journal, brain dump, dan masih banyak lagi[2]. Penulisan jurnal pun bebas tanpa adanya pakem. Hal ini terbukti dari banyak orang yang mengisi jurnal mereka dengan kreatif dan hiasan yang menarik.

Journaling dan Dampaknya

Salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental adalah journaling. Lewat mencatat berbagai rasa dan ide, banyak hal yang bisa kita refleksikan. Dari untaian kata yang tercatat di jurnal, kita bisa kembali menata hal-hal yang semula kusut. Aku rasa hakikat dari penjurnalan adalah upaya kita membantu diri kita sendiri lewat refleksi tulisan pribadi.

Journaling memiliki banyak manfaat tak sebatas refleksi diri. Aku sempat baca bahwa journaling berguna membuat kita lebih mengenal diri kita dalam memproses emosi yang kita rasakan. Penjurnalan juga dapat membantu kita mengelola stres serta kecemasan. Selain itu, lewat menulis jurnal kita bisa juga memperbaiki mood[3].

Aku rasa selain hal di atas, journaling juga merupakan salah satu cara yang baik untuk belajar. Tidak hanya belajar mengenal diri kita sendiri, melainkan juga belajar menulis dalam berbahasa. Karena kemampuan menulis harus selalu diasah agar berkembang. Lantas menulis jurnal bisa menjadi salah satu cara kita untuk berlatih menulis. Salah satu artikel yang aku baca turut menjelaskan bila praktek journaling menunjukkan dampak dalam kemampuan menulis seseorang[4].

Caraku Melakukan Journaling

Ini 2 buku jurnal yang aku gunakan.
Ini 2 buku jurnal yang aku gunakan.

Journaling itu bebas. Tak ada pakem. Tak ada aturan. Sehingga tidak ada standar mengikat journaling wajib seperti apa. Bagiku pribadi, journaling tidak harus dipatok estetik wah luar biasa layaknya yang banyak dikontenin orang. Lakukan penjurnalan sesuai maumu, sesuai seleramu, dan sesuai apa yang kamu bayangkan di kepala.

Penjurnalan sekarang semakin mudah sih kalau dipikir lagi. Mau digital jurnal bisa, mau manual jurnal pun bisa. Pokoknya tinggal pilih media ternyaman yang kamu suka. Karena journaling tak terikat aturan, jadi yah lakukan sesuai apa yang kamu kehendaki.

Aku sendiri melakukan journaling secara digital dan manual. Untuk jurnal manual alias yang ditulis dengan tangan, aku punya 2 buku. Keduanya berukuran A5 dan cuma beda jumlah halaman doang sih: 40 halaman dan 60 halaman. Bukunya pun simpel sebab aku beli di toko alat tulis dekat rumah.

Kedua jurnal ini terdiri dari brain dump dan memori hal berkesan. Aku mengisinya tidak tentu. Pokoknya tergantung kapan ide dan mood mampir. Benar-benar bebas, benar-benar sesukaku. 

Persiapan mengisi salah satu halaman jurnalku
Persiapan mengisi salah satu halaman jurnalku.

Isi jurnalku pun warna-warni. Kadang aku tempel beberapa sobekan kertas, stiker, struk belanja, bungkus barang, dan washi tape. Ada kalanya juga aku tempel potongan doodle yang aku buat. Intinya ya memang aku mengisi jurnalku sesuai seleraku—bebas sesuka hatiku.

Sedangkan untuk jurnal digital aku pakai Google Docs. Sebenarnya ada banyak aplikasinya yang bisa digunakan untuk journaling secara digital. Cuma karena aku mau yang sederhana tanpa ribet Google Docs adalah opsi terbaik menurutku. Jurnal ini hanya aku gunakan untuk menulis refleksi kegiatan sehari-hariku ngapain saja. Bisa dibilang ini adalah bullet journal super minimalis. Selain itu, aku juga masih menulis diary secara digital sekarang.

Rasaku Setelah Mulai Journaling

Cuplikan salah satu tulisanku di jurnal.
Cuplikan salah satu tulisanku di jurnal.

Setelah rutin menulis jurnal beberapa bulan ini, aku merasa lebih terarah. Mungkin sebab sedikit-sedikit aku mulai bisa melihat rupa refleksi sejati diriku. Mulai mau berbenah sedikit-sedikit. Mulai belajar dari kemarin. Lantas aku selalu berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit.

Selain itu, semakin lama menulis rasanya aku semakin tahu mau melangkah ke arah mana. Bisa dibilang sebab aku sudah menetapkan tujuan di tahun ini dan tujuan setiap bulan, aku jadi tahu beberapa hal yang harus dan akan aku lakukan. Arah mana yang aku ingin tuju dan diri seperti apa yang ingin aku bentuk pun bisa aku bayangkan. Rasanya jadi lebih jelas dan aku sangat menyukainya.

Dari lembar demi lembar buku jurnal yang aku isi, kelegaan juga menghampiriku. Mungkin sebab beberapa ide, rasa, dan angan yang banyak aku pendam bisa keluar. Selain itu, dengan menulis ini aku bisa plong melepaskan banyak hal yang aku tahan. Rasanya enak dan nyaman sekali ketika sudah tidak membawa sesuatu yang mengganjal.

Aku rasa itu yang bisa aku bagiku dalam refleksiku soal journaling di tulisan kali ini. Teruntuk kalian yang baru mulai journaling aku cuma mau bilang untuk tak perlu ragu. Kalian bisa menulis apapun itu, sebebas kehendak kalian, dan tentunya senyaman kalian. Journaling merupakan bentuk ekspresi bebas menulis apa yang kalian rasa dan pikir. Jadi, jangan ragu untuk menulis apapun itu dalam buku jurnal kalian. Semangat selalu dan selamat menulis!

restyu, 100426.

Halo, nama pena saya restyu tapi kalian bisa panggil saya Anggit. Seringnya saya menulis cerita keseharian atau beberapa hal menarik bagi saya untuk dibagikan di blog. Salam kenal.

This Is The Newest Post

1 komentar

  1. menarik, journaling yang gue lakuin lebih ke dump writing, nulis apa aja yang terjadi dan gue keluhkan di hari itu

    BalasHapus


EmoticonEmoticon