Apa kamu masih membaca buku? Tentu saja masih! Tahun berlalu dan aku masih mengusahakan diri untuk tetap membaca buku sebagai hobi. Semenjak 2023 sampai sekarang 2026, paling tidak setiap tahun aku membaca belasan buku di waktu senggang.
Membaca buku masih menjadi rutinitas menyenangkan. Tidak sebatas menghibur diri dan menambah pengetahuan, membaca juga adalah sebuah latihan. Latihan membangun fokus dan mengurangi rasa ingin scrolling, pun latihan mengembangkan tulisan. Sebab dalam kemampuan berbahasa, menulis dan membaca memiliki keterkaitan yang erat.
Kalau membandingkan diri dengan tahun 2023 saat awal-awal balik membaca buku, rasanya tahun 2026 ini ada beberapa perubahan yang kentara. Karena akhirnya aku bisa bilang jika aku menemukan cara ternyamanku dalam membaca buku.
Membaca Lambat dan Menikmatinya
![]() |
| Satu dari dua buku yang aku baca Februari kemarin. |
Aku adalah seorang slow reader*1) alias pembaca lambat. Kenapa membaca lambat? Karena aku membaca sebisanya dan pasti harus menikmatinya.
Jujur ya, pas awal kembali membaca rasanya ingin baca buku cepat-cepat dan banyak-banyak. Mungkin karena mutual di twitter—sekarang disebut X—banyak fast reader*2) yang dalam sebulan bisa membaca puluhan buku membuatku ingin seperti itu. Namun, lama-lama aku menyadari bahwa baca buku dengan cepat sepertinya tidak cocok denganku. Rasanya aku cuma sekadar membaca dan rasa menikmati buku terasa jadi aneh.
Menjadi slow reader yang mungkin dalam sebulan cuma bisa menamatkan satu buku lebih menyenangkan untukku personal. Kini aku berprinsip: aku akan membaca kalau aku sempat dan bisa. Karena kalaupun ada waktu tapi pikiranku kadung*3) capek, ya pada akhirnya aku tidak bisa menikmati apa yang aku baca. Toh, kalau dipikir lagi, membaca itu hobi bukan persaingan. Hal yang paling penting adalah menikmati apa yang dibaca, bukan siapa yang baca paling banyak dan cepat, kan?
Aku mencoba sebisa mungkin setiap hari membaca. Meskipun cuma satu halaman, sebab itu kan sudah sebuah progres. Lantas bilamana dalam satu hari atau beberapa hari aku tidak bisa membaca sama sekali ya sudah sih. Selama dua tahun kemarin, paling tidak ada waktu tertentu selama sekitar 3 bulan di mana reading slump*4) melandaku. Lalu aku pikir-pikir lagi itu hal yang lumrah, sebab orang bisa lelah dan membutuhkan jeda.
Meskipun dalam sebulan hanya bisa membaca satu atau dua buku, buncahan rasa senang dan puas tidak hilang dariku kok. Karena membaca pelan-pelan dan fokus, aku menemukan sebuah kebiasaan baru seperti mencari kosakata baru dan typo*5) entah di ejaan, huruf kapital, ataupun tanda baca. Hal ini sekalian aku jadikan latihan menyunting sih. HHitung-hitung menambah khasanah dalam kepenulisanlah.
Garis dan Catatan dalam Membaca
![]() |
| Buku catatan kosakata baru. |
Hal lain yang mulai aku lakukan untuk menikmati membaca adalah membuat catatan. Setahun ini aku mulai mencatat kosakata menarik yang aku jumpai di setiap buku. Awalnya aku catat di aplikasi Bookmory, tetapi sekarang aku mencatatnya di buku kecil tersendiri.
Karena beragamnya genre yang aku baca, banyak kosakata baru yang aku jumpai. Setiap dapat kosakata baru membuatku merasa kecil sekali di semesta sastra yang luas. Karena memang sejatinya banyak hal yang tidak aku ketahui. Contohnya aku baru tahu kalau merjan itu sebutan lain manik-manik, misai itu kumis, desertir adalah sebutan untuk orang yang meninggalkan tugas atau membelot, serta masih banyak lagi.
![]() |
| Buku nonfiksi yang aku tandai dengan highlighter pen. |
Tak hanya mencatat sih, sekarang aku lebih sering mencoret dan menadai buku yang kubaca. Meskipun ini masih terbatas di buku nonfiksi karena aku harus mencari detail informasi. Cuma secara personal aku rasa ini sebuah kemajuan. Dulu sih aku cuma berani tandai pakai sticky tabs dan sudah selesai. Namun, sekarang selain sticky tabs tiap kalimat yang penting dan berkesan aku tegaskan dengan pensil warna atau highlighter pen.
Sebenarnya aku mau banget coret-coret buku fiksi juga. Cuma entah kenapa sampai sekarang masih belum ada satu kalimat pun yang berhasil aku garis dan tandai. Kayak masih belum setega itu untuk koleksi buku fiksiku. Padahal anotasi buku*6) sejatinya sah-sah saja dan hak bagi pemilik buku. Diberi anotasi silakan, tidak diberi anotasi silakan. Itu kembali lagi jadi selera masing-masing.
Meskipun bukan sekarang, agaknya aku yakin nanti pasti mulai anotasi buku fiksiku. Mungkin coret-coret detail dan berkomentar dari apa yang aku baca. Rasanya pasti seru, meskipun belum tahu kapan aku berani.
Rencanaku dalam Merawat Hobi MembacaSekarang tantangan yang aku hadapi adalah tetap merawat kebiasaan ini. Menjaga konsistensi selalu menjadi PR tersendiri. Beberapa hal yang aku usahakan agar tetap rutin membaca setiap hari adalah membuat target baca. Target bacaku setiap tahun sama, yaitu 20 buku. Kalau target bisa terlampaui ya syukur, kalaupun tidak ya tidak apa-apa. Inti target bacaku adalah menjaga agar aku tetap konsisten, bukan untuk berlomba.
![]() |
| Beberapa koleksi bukuku yang aku simpan di meja. |
Tak hanya merawat kebiasaan, merawat buku juga menjadi hal yang wajib aku lakukan. Mengingat buku sekarang kian mahal harganya jelas dong harus dirawat. Sebisa mungkin semua buku aku sampul agar tidak cepat rusak parah. Kalau buku mulai menguning sih itu hal normal, jadi bukan masalah untukku. Selain itu, setiap minggu aku mencoba membersihkan meja tempat bukuku disimpan agar tidak berdebu parah.
Aku ada rencana membuat pojok baca di rumah. Karena jujur membuat perpustakaan sepertinya mustahil. Nanti aku ingin beli rak buku, karpet, lampu baca, serta kursi atau sofa yang nyaman. Entah kapan ini bisa terwujud karena aku harus menyisihkan uang terlebih dahulu. Meskipun lama, aku yakin rencana ini bisa tetap terwujud.
Selain itu, terkadang aku mulai mempertimbangkan untuk membeli e-reader*7). Cuma ya aku belum serius memikirkannya. Aku masih kebanyakan membaca buku fisik, pun buku digital yang aku baca banyaknya pinjam di iPusnas—yang sering eror—serta EPerpusdikbud atau beli di Google Play Books. Rasanya untuk sekarang aku masih bisa menikmati buku digital lewat ponsel. Jadi, memang e-reader sepertinya bukan prioritas. Mungkin nanti di jauh hari aku akan beli, tapi jujur masih banyak sekali pertimbangan ini dan itu.
Setelah ini, harapku pada diriku pribadi adalah bisa tetap konsisten merawat membaca sebagai hobi sepanjang hayat. Sebenarnya ada satu harapan kecil lainnya yaitu mengajak orang di sekitarku untuk semakin sering membaca. Agaknya menyenangkan bila ada teman atau kenalan di kehidupan sehari-hari yang bisa jadi kawan diskusi usai membaca buku yang sama. Karena dengan membaca kita belajar dan dengan membaca kita juga melawan. Jadi, mari membaca untuk diri kita dan masa depan kita.
restyu, 030326.




EmoticonEmoticon