Ramadan berlalu, Syawal pun tiba. Puasa dan lebaran tahun ini berbeda dibanding tahun lelu sebab perayaannya tidak serentak sama. Ada yang merayakan lebaran hari Jumat 20 Maret 2026, ada pula yang baru merayakannya Sabtu 21 Maret 2026. Kalian sendiri merayakan di hari apa? Keluargaku sih ikut pemerintah, jadi kami baru salat hari Sabtu.
Ini adalah tulisan tahunan di blog ini. Cuma cerita lebaran keluargaku di 2026 yang rasanya lebih lenggang dibandingkan kemarin-kemarin.
Suasana Salat Idulfitri 2026 di Lapangan Bantarangin
Tak jauh beda dari lebaran kemarin, tahun ini kami lebaran cuma berdua. Well, mungkin bisa dibilang beda sedikit karena Dahlil—kucing peliharaan di rumah sekarang—sudah sibuk mengeong dari sebelum subuh. Rumah sudah rapi sejak Kamis dan meja ruang tamu sudah diisi beberapa toples camilan dan air mineral.
Jam 5 pagi adalah puncak grasak-grusuk orang rumah. Mulai dari ribut mau mandi, keluarin motor dari garasi, sedikit makan serta minum, dan huru-hara lainnya. Sekitar jam 6 kurang 5 kami sudah berangkat ke lapangan. Sedikit lebih cepat dari biasanya. Agak gasik*1). Tumben banget pokoknya.
Jalan raya jauh lebih lenggang dari bayanganku. Mungkin sebab beberapa orang sudah salat kemarin. Kendaraan yang menyalip bahkan bisa dihitung jari. Dengan kecepatan super duper amat santai ini kami tiba di Lapangan Bantarangin dalam waktu kurang dari 10 menit. Lapangannya pun masih lenggang saat itu.
![]() |
| Salat Idulfitri 1447 H di Lapangan Bantarangin. |
Tahun ini aku salat di shaf paling depan untuk putri. Mungkin kalau istilah dalam konser bisa dibilang CAT 1 kali ya. Posisinya masih agak di tengah walaupun agak sedikit condong ke arah utara. Sangat jauh dari deretan pedagang yang sudah berjejer menjajakan balon dan camilan di selatan lapangan.
Alas koran digelar, sajadah diletakkan, dan mukenah segera dipakai. Sebelumnya aku sempat basa-basi permisi ke ibu-ibu di sebelah kiriku juga. Embun yang tipis lantas merembes membasahi sedikit rok, koran, dan sajadah. Mungkin sebab hujan terkadang masih mampir, kelembaban pun masih tinggi sehingga embun mampir lebih rajin.
Salat baru dimulai sekitar jam 06.35-an, bahkan mungkin lebih sedikit. Matahari sudah agak tinggi posisinya. Hangat tetapi tidak menyengat. Rangkaian salat baru selesai sekitar nyaris jam 07.10. Lebih kurang 5 menit kemudian Bapak dan aku baru jalan balik ke rumah.
Cuma nih nasib sial tidak ada yang tahu, ealah kunci rumah jatuh entah di mana dan Bapak baru ngeh di tengah jalan. Alhasil aku diturunkan di pinggir jalan, sedangkan Bapak kembali mencari kunci. Untungnya sih ya untungnya, kuncinya ketemu dalam waktu singkat. Baru deh kami bisa pulang dengan tenang.
Hiruk-Pikuk Rumah Babak Setelah Salat Ied
Mungkin sekitar jam 8 kurang sedikit, keluarga masku mampir ke rumah. Minta maaf satu sama lain seperti rutinitas lumrah di lebaran, kemudian mengobrol sedikit. Mereka tidak mampir lama karena masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.
Sekitar jam 09.30 lebih sedikit, keluarga dari Bulik yang gantian datang. Kami mengobrol ini dan itu cukup lama. Selepasnya jam 10 kurang sedikit keluarga Bulik kembali.
Rumah jadi sepi tepat usai jam 10. Bapak pergi ke halal bihalal kampung. Menyisakan aku dan Dahlil—yang sibuk lari dari halaman depan ke kebun belakang. Bola bulu satu ini juga tadi sempat membawa buruan tikus ke rumah. Pamer seperti biasa atau malah mungkin dia malah sedang menyetorkan THR lebaran. Jam 11 Bapak baru balik pulang dan aku malah ketiduran saking sepinya rumah.
Tidak banyak yang terjadi selepas itu. Tak ada tamu yang mampir lagi. Rumah hanya ramai dengan obrolan ini dan itu antara Bapak dan aku. Mungkin juga rumah juga agak berisik dengan kotekan ayam peliharaan Bapak yang bertelur. Rumahku sepi layaknya jalan raya di depan yang lenggang.
Serba-Serbi Santapan Lebaran 2026
Tak ada persiapan yang muluk-muluk untuk sanatapan lebaran tahun ini. Tak ada rencana spesial, tak ada bahan khusus. Kulkas isinya cuma bahan seadanya seperti hari-hari biasa. Karena ya memang harga beberapa komoditas sedang naik-naiknya. Aku rasa sedikit parah dari lebaran kemarin. Terutama daging ayam di daerahku. Harganya kalau tidak salah masih konsisten di sekitar Rp37.000 sampai Rp40.000 untuk ayam potong. Kalau harga ayam kampung mah jelas lebih mahal.
![]() |
| Nasi goreng buatan Bapak jadi santapan perdana lebaran 2026. |
Makanan perdana kami di lebaran bukan opor apalagi rendang. Nasi goreng malah jadi sajian pertama kami di rumah. Sisa nasi semalam masih banyak dan eman*2) banget dibuang. Lalu nasi goreng adalah kunci jawaban yang kami putuskan. Toh puasa kemarin sama sekali tidak makan nasi goreng sebulan penuh selama Ramadan.
Nasi goreng rumahan buatan Bapak khas pokoknya. Juara nasi goreng yang pernah aku makan. Ditambah taburan brambang*3) goreng dan kerupuk udang. Duh! Gurih dan pedas dengan tambahan tekstur kerupuk udang renyah. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan coba?
![]() |
| Makan lontong opor di lebaran 2026. |
Nah, santapan di siang hari baru deh hidangan khas lebaran. Ini kiriman dari keluarga masku. Lontong, opor ayam, sambal goreng kentang, dan gudeg. Lontong opor. Hidangan khas Jawa Tengah, terutama yang satu ini khas ala Wonogiri banget. Gurih, manis, dan pedas menari jadi kombinasi yahud di lidah.
Kamu lebaran tahun ini banyak ngemil tidak? Tentu dong! Tumpukan kue kering itu rasanya amat menggoda untuk disantap alias tak mungkin bisa ditolak. Sudah ada beberapa cemilan di meja yang aku cemilin sih. Cuma nih ya, itu masih amat sangat sedikit dibanding stok kue kering yang ada di lemari. Aku rasa dalam beberapa bulan dari sekarang, semua snack ini tidak akan langsung habis bis bis deh.
Jadi, itu sedikit cerita lebaranku di tahun 2026 ini. Selamat hari raya Idulfitri 1447 H untuk para pembaca blog ini. Semoga amal puasa dan ibadah kita diterima Allah SWT dan kita bisa menjadi pribadi yang lebih dari kedepannya. Tak lupa juga, selamat menikmati liburan bersama keluarga dan orang terkasih.
restyu, 160326.



EmoticonEmoticon